Seribu Malam Yang Lalu

Seribu Malam Yang Lalu

Seribu malam yang lalu,
di atas kakiku yang telanjang bulat,
aku berjalan meniti untaian benang rindu,
yang terbentang di antara hampa bayangmu.
Letih ini berjanji setia jadi saksi,
dan menemani ketika muram durja menerpa,
bagai sirip ikan yang menari di air dangkal,
aku menggelepar dalam bejana penantian.
Di hamparan hati yang tak pernah terbagi,
kusematkan sebuah lencana atas namamu,
dan atas nama rasa yang tak mampu bicara,
kucoba sembunyikan seulas senyum palsu.
Seribu malam yang lalu,
apalah bedanya dengan malam ini,
sebilah rindu di dada tak jua melentur,
semakin tajam kala dingin malam menghujam.

Aku Pernah Menjadi Bintang di langit

Aku Pernah Menjadi Bintang di Langit

Aku pernah menjadi bintang di langit,
yang berkedip di keluasan gurun cahaya,
mencoba menarik sepenggal perhatian,
tapi hanya kau pandang dari sudut matamu,
dan ketika semilir angin terkembang sayapnya,
sejuk senyummu pun terurai menjadi badai,
yang meruntuhkan kedipan bintang itu,
terjatuhlah aku mengerang dalam kedukaan.
Aku pernah menjadi batu karang,
yang tak pernah goyah mempertahankan rasa,
sedikit bergeming bukanlah sifat yang kumaklumi,
tapi di matamu seakan aku tak pernah berdiri,
seperti batang pepaya yang telah lelah berbuah,
terhuyung tanpa kasihmu yang menyangga,
dan rapuhlah aku dalam kesendirian ini.
Aku sering menjadi bukan diriku,
tak jarang harus melupakan segudang ingatan,
bersolek menutup ribuan belang di wajahku,
agar aku menjadi seperti yang kau inginkan,
agar aku menjadi dewa yang menaungi hidupmu,
walau harus kuabaikan arti sebuah jati diri,
yang kuwarisi sejak sebelum kau dilahirkan.

Seroja

Seroja

Perlukah aku meminta maaf pada sang malam,
karena acap kali kuusir dia dari hadapanku,
agar segera kulihat jendela pagi yang indah,
agar segera kujumpai sapa sambutnya,
dan kutatap lagi matanya yang seperti bintang.
Dahulu kala pernah kurasakan rasa seperti ini,
entah kapan dan di mana aku mengalaminya,
kini kau ingatkan aku cara membuka hati,
bagai lelap tertidur dan terbuai dalam  mimpi,
kau membawaku terbang dengan sayap putihmu.
Wahai dara,
andai aku pujangga pastilah aku telah memuja,
mengibaratkanmu bagai bunga seroja,
merayumu dengan untaian puisi dan prosa,
tapi kata-kata yang kurangkai selalu tanpa makna.
Jika saat ini ingin kuusir malam sekali lagi,
semata-mata bukan karena aku membencinya,
tapi semua kulakukan untukmu,
lantaran tiba-tiba kurasakan rindu,
padamu.

Kejora

Kejora

Kejora,
ketika sinarmu membiru,
hanyutlah aku dalam rindu,
kala cahayamu memerah,
redamlah aku dari amarah.
Karena kau cantik,
bidadari pun iri hati,
lantaran selalu kupandang,
tak kuijinkan mata ini berkedip,
dengan alasan takut kehilangan.
Wahai penghias langit malam,
hiasi hatiku dengan sinarmu,
sampai lubuk-lubuk tak terjamah,
dan relung-relung tak tersentuh,
biar jiwaku seputih parasmu.
Kejora,
tertutup awan gelap,
tak pernah mampu menghijab,
terselubung awan putih,
tak jua kudengar suara rintih.

Aku Ingin Berhenti

Aku Ingin Berhenti


Karena alam tertawa lebar,
aku tertawa juga,
entah kenapa hari ini mendung tiada kunjung,
dan sepoi angin datang tanpa permisi,
menyibak rerumputan yang kering ujungnya,
kira-kira,
apa yang terakhir akan hadir?
Sebelum terjabar lebih luas,
ingin kubaca dulu tulisan di langit,
dengan mata telanjang,
karena kaca mataku telah retak,
terinjak tumit kesombongan diri,
tanpa peduli tajamnya firasat,
hingga sering kali melanggar cinta.
Akankah terjawab tanyaku,
sedang percakapan di langit tiada kudengar,
terus terang,
aku khawatir dengan anganku,
yang terlampau sering berkelana,
oleh karena itu,
aku ingin berhenti.